Untukitu saya tertarik membuat Asuhan Keperawatan Kepada Ny.''S'' umur 23 tahun dengan Gastroenteritis di Balai Pengobatan "AS SYIFA" Desa Waru Kulon Pucuk Lamongan. 1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan Umum Menetapkan dan mengembangkan pola pikir secara ilmiah kedalam proses asuhan Keperawatan nyata serta mendapatkan pengalaman dalam memecahkan masalah pada Ny."S" dengan Gastroenteritis atau diare. 1.2.2 Tujuan khusus 1) Untuk mengetahui gambaran tentang kasus Gastroenteritis yang ContohLaporan Asuhan Keperawatan (askep) Tentang Diare. Deskripsi Singkat: Contoh Laporan Asuhan Keperawatan (askep) Tentang Diare ini membahas tentang: laporan asuhan keperawatan tentang diare yang dimaksudkan untuk memenuhi laporan mata kuliah Asuhan Keperawatan pada Akademi Keperawatan, serta pembahasan lainnya. ο»ΏDiarediartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dan frekuensinya lebik banyak dari biasanya. Neonatus dinyatakan diare bila frekuensinya buang air besar sudah lebih dari 4kali. Sedangkan untuk bayi berumur lebih dari satu bulan dan anak, dikatakan diare bila frekunsinya lebih dari 3kali (Latief,dkk.2005). atautanda dan gejala diare pada orang dewasa biasanya di tandai dengan Konsistensi feces cair (diare) dan frekuensi defekasi semakin sering, muntah (umumnya tidak lama) , demam (mungkin ada, mungkin tidak), kram abdomen, membrane mukosa kering, berat badan menurun. Selama proses IntervensiKeperawatan pada Klien Diare Diagnosa 1: Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan skunder terhadap diare Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam keseimbangan dan elektrolit dipertahankan secara maksimal mOlbFd. 0% found this document useful 0 votes6K views9 pagesDescriptionLaporan KasusCopyrightΒ© Β© All Rights ReservedAvailable FormatsDOC, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes6K views9 pagesLaporan Kasus Diare Akut DewasaJump to Page You are on page 1of 9 You're Reading a Free Preview Pages 5 to 8 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime. Foto Buku Diagnosa Keperawatan/ Kategori Fisiologis, Subkategori Nutrisi dan Cairan DIAGNOSA KEPERAWATAN SDKI Diare Definisi Pengeluaran Feses yang sering, lunak dan tidak berbentuk. Penyebab Fisiologis Inflamasi gastrointestinalIritasi gastrointestinalProses infeksiMalabsorbsi Psikologis Kecemasan Tingkat stres tinggi Situasional Terpapar kontaminanTerpapar toksinPenyalahgunaan zatProgram pengobatan Agen tiroid. Analgesik, pelunak feses, ferosulfat, antasida, cimetidine dan antibiotikBakteri pada air Gejala dan Tanda Mayor Subjektif Tidak tersedia Objektif Defekasi lebih dari tiga kali dalam 24 jamFeses lembek atau cair Gejala dan Tanda Minor Subjektif UrgencyNyeri/kram abdome Objektif Frekuensi peristaltik meningkatBising usus hiperaktif LUARAN KEPERAWATAN SLKI Tujuan dan Kriteria Hasil Setelah dilakukan intevensi keperawatan selama ………… maka Eliminasi fekal membaik dengan kriteria hasil Kriteria Hasil * Kontrol pengeluaran feses 1 2 3 4 5 ** Keluhan defekasi lama dan sulit 1 2 3 4 5 Mengejan saat defekasi Distensi abdomen 1 2 3 4 5 Terabas massa pada rektal 1 2 3 4 5 Urgency 1 2 3 4 5 Nyeri abdomen 1 2 3 4 5 Kram abdomen 1 2 3 4 5 *** Konsistensi feses 1 2 3 4 5 Frekuensi BAB 1 2 3 4 5 Peristaltik usus 1 2 3 4 5 Keterangan Skor * Menurun 1 Cukup Menurun 2 Sedang 3 Cukup Meningkat 4 Meningkat 5 ** Meningkat 1 Cukup Meningkat 2 Sedang 3 Cukup Menurun 4 Menurun 5 *** Memburuk 1 Cukup Memburuk 2 Sedang 3 Cukup Membaik 4 Membaik 5 BACA JUGA Asuhan Keperawatan Retensi Urin [ INTERVENSI KEPERAWATAN SIKI Manajemen Diare Observasi Identifikasi penyebab diare mis. Inflamasi gastrointestinal, iritasi gastrointestinal Identifikasi gejala invaginasi Identifikasi riwayat pemberian makanan Monitor warna, volume, frekwensi, dan konsistensi tinjaMonitor tanda dan gejala hipovolemia Monitor iritasi dan ulserasi kulit didaerah perineal Monitor jumlah pengeluaran diare Monitor keamanan penyiapan makanan Terapeutik Berikan asupan cairan oral Pasang jalur intravena Berikan cairan intravena Berikan minum hangat. Lakukan fisioterapi dada, jika perlu Ambil sampel feses untuk kultur, jika perlu Edukasi Anjurkan makanan porsi kecil dan sering secara bertahap Anjurkan menghindari makanan, pembentuk gas, pedas, dan mengandung lactose Kolaborasi Kolaborasi pemberian obat antimotilitas Kolaborasi pemberian obat antispasmodic/ spasmolitik Kolaborasi pemberian obat pengeras feses Pemantauan Cairan Kolaborasi Monitor frekuensi dan kekuatan nadi Monitor frekuensi nafas Monitor elastisitas atau turgor kulit Monitor jumlah, waktu dan berat jenis urine Terapeutik Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi pasien Dokumentasi hasil pemantauan Edukasi Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan Informasikan hasil pemantauan, jika perlu Sumber PPNI 2016. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia Definisi dan Indikator Diagnostik 1st ed. Jakarta DPP PPNIPPNI 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia Definisi dan Tindakan Keperawatan 1st ed. Jakarta DPP PPNIPPNI 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan 1st ed. Jakarta DPP PPNI LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DIARE AKUT KARENA INFEKSI KONSEP MEDIS Pengertian Diare adalah buang air besar defekasi dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cairan, dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak dari keadaan normal yakni 100-200 ml/sekali defekasi Hendarwanto, 1999. Menurut WHO 1980 diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari. Diare akut adalah diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat dalam beberapa jam atau beberapa hari. Penyebab Diare akut karena infeksi gastroenteritis dapat ditimbulkan oleh Bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi, Salmonella para typhi A/B/C, Shigella dysentriae, Shigella flexneri, Vivrio cholera, Vibrio eltor, Vibrio parahemolyticus, Clostridium perfrigens, Campilobacter Helicobacter jejuni, Staphylococcus sp, Streptococcus sp, Yersinia intestinalis, Coccidiosis. Parasit Protozoa Entamoeba hystolitica, Giardia lamblia, Trichomonas hominis, Isospora sp dan Cacing A. lumbricodes, A. duodenale, N. americanus, T. trichiura, O. velmicularis, S. stercoralis, T. saginata dan T. solium Virus Rotavirus, Adenovirus dan Norwalk. Penelitian di RS Persahabatan Jakarta Timur 1993-1994 pada 123 pasien dewasa yang dirawat di bangsal diare akut didapatkan hasil isolasi penyebab diare akut terbanyak adalah E. coli 38 %, V. cholera Ogawa 18 % dan Aeromonas sp. 14 %. Patofisiologi Sebanyak kira-kira 9-10 liter cairan memasuki saluran cerna setiap hari yang berasal dari luar asupan diet dan dari dalam tubuh sendiri sekresi cairan lambung, empedu dan sebagainya. Sebagian besar jumlah tersebt diresorbsi di usus halus dan sisanya sebanyak 1500 ml memasuki usus besar. Sejumlah 90% dari cairan usus besar akan diresorbsi sehingga tersisa sejumlah 150-250 ml cairan ikut membentuk tinja. Faktor-faktor fisiologis yang menyebabkan diare sangat erat hubungannya satu sama lain. Misalnya, cairan dalam lumen usus yang mengkat akan menyebabkan terangsangnya usus secara mekanis karena meningkatnya volume sehingga motilitas usus meningkat. Sebaliknya bila waktu henti makanan di usus terlalu cepat akan menyebabkan gangguan waktu penyentuhan makanan dengan mukosa usus sehingga penyerapan elektrolit, air dan zat-zat lain terganggu. Bagan patofisiologi diare dan mekanisme kompensasi dengan larutan gula garam secara sederhana dapat dilihat pada gambar berikut Dinding Epitel Lumen Usus Entero toksin Sel Epitel Usus AMP Siklik Cl H2O, K+, Na+, HCO3 Glukosa Na+ Glukosa H2O HCO3 Cl– Na+ K+ Vaskuler Mekanisme Kerja Enterotoksin AMP Siklik dan Cara Kompensasi dengan Larutan Gula Garam Patogenesis Dua hal umum yang patut diperhatikan pada keadaan diare akut karena infeksi adalah faktor kausal agent dan faktor penjamu host. Faktor penjamu adalah kemampuan tubuh untuk mempertahankan diri terhadap organisme yang dapat menimbulkan diare akut yang terdiri atas faktor-faktordaya tahan tubuh atau lingkungan intern traktus intestinalis seperti keasaman lambung, motilitas usus dan juga mencakup flora normal usus. Penurunan keasaman lambung pada infeksi shigella telah terbukti dapat menyebabkan serangan infeksi yang lebih berat dan menyebabkan kepekaan lebih tinggi terhadap infeksi Hipomotilitas usus pada infeksi usus memperlama waktu diare dan gejala penyakit serta mengurangi kecepatan eliminasi agen sumber penyakit. Peran imunitas tubuh dibuktikan dengan didapatkannya frekuensi Giardiasis yang lebih tinggi pada mereka yang kekurangan Ig-A. Percobaan lain membuktikan bahwa bila lumen usus dirangsang suatu toksoid berulangkali akan terjadi sekresi antibodi. Percobaan pada binatang menunjukkan berkurangnya perkembangan S. typhi murium pada mikroflora usus yang normal. Faktor kausal yang mempengaruhi patogenitas antara lain daya penetrasi yang dapat merusak sel mukosa, kemampuan memproduksi toksin yang mempengaruhi sekresi cairan usus halus serta daya lekat kuman pada lumen usus. Kuman dapat membentuk koloni-koloni yang dapat menginduksi diare. Berdasarkan kemampuan invasi kuman menembus mukosa usus, bakteri dibedakan atas Bakteri non-invasif enterotoksigenik Misalnya V. cholera/eltor, Enterotoxigenic E Coli ETEC dan C. perfringens tidak merusak mukosa, mengeluarkan toksin yang terikat pada mukosa usus halus 15-30 menit sesudah diproduksi yang mengaktivasi sekresi anion klorida dari sel ke dalam lumen usus yang diikuti air, ion bokarbonat, natrium dan kalium sehingga tubuh akan kekurangan cairan dan elektrolit yang keluar bersama tinja. Bakteri enterovasif Misalnya Enteroinvasive E. Coli EIEC, Salmonella, Shigella, Yersinia, dan C. perfringens type CV. cholera/eltor, Enterotoxigenic E Coli dan C. perfringens. Dalam hal ini, diare terjadi akibat nekrosis dan ulserasi dinding usus. Sifat diarenya sekretorik eksudatif., dapat tercampur lendir dan darah. Walaupun demikian, infeksi oleh kuman-kuman ini dapat juga bermanifestasi sebagai suatu diare koleriformis. Manifestasi Klinis Diare akut karena infeksi dapat disertai muntah-muntah, demam, tenesmus, hematoschezia, nyeri perut dan atau kejang perut. Akibat paling fatal dari diare yang berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat adalah kematian akibat dehidrasi yang menimbulkan renjatan hipovolemik atau gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik yang berlanjut. Seseoran yang kekurangan cairan akan merasa haus, berat badan berkurang, mata cekung, lidah kering, tulang pipi tampak lebih menonjol, turgor kulit menurun serta suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan oleh deplesi air yang isotonik. Karena kehilangan bikarbonat HCO3 maka perbandingannya dengan asam karbonat berkurang mengakibatkan penurunan pH darah yang merangsang pusat pernapasan sehingga frekuensi pernapasan meningkat dan lebih dalam pernapasan Kussmaul Gangguan kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan dengan tanda-tanda denyut nadi cepat > 120 x/menit, tekanan darah menurun sampai tidak terukur. Pasien mulai gelisah, muka pucat, akral dingin dan kadang-kadang sianosis. Karena kekurangan kalium pada diare akut juga dapat timbul aritmia jantung. Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun sampai timbul oliguria/anuria. Bila keadaan ini tidak segera diatsi akan timbul penyulit nekrosis tubulus ginjal akut yang berarti suatu keadaan gagal ginjal akut. Prinsip Penatalaksanaan Penatalaksanaan diare akut karena infeksi pada orang dewasa terdiri atas Rehidrasi sebagai prioritas utama terapi. Tata kerja terarah untuk mengidentifkasi penyebab infeksi. Memberikan terapi simtomatik Memberikan terapi definitif. 1. Rehidrasi sebagai prioritas utama terapi. Ada 4 hal yang penting diperhatikan agar dapat memberikan rehidrasi yang cepat dan akurat, yaitu 1 Jenis cairan yang hendak digunakan. Pada saat ini cairan Ringer Laktat merupakan cairan pilihan karena tersedia cukup banyak di pasaran meskipun jumlah kaliumnya rendah bila dibandingkan dengan kadar kalium tinja. Bila RL tidak tersedia dapat diberiakn NaCl isotonik 0,9% yang sebaiknya ditambahkan dengan 1 ampul Nabik 7,5% 50 ml pada setiap satu liter NaCl isotonik. Pada keadaan diare akut awal yang ringan dapat diberikan cairan oralit untuk mencegah dehidrasi dengan segala akibatnya. 2 Jumlah cairan yang hendak diberikan. Pada prinsipnya jumlah cairan pengganti yang hendak diberikan harus sesuai dengan jumlah cairan yang keluar dari badan. Jumlah kehilangan cairan dari badan dapat dihitung dengan cara/rumus – Mengukur BJ Plasma Kebutuhan cairan dihitung dengan rumus BJ Plasma – 1,025 β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”- x BB x 4 ml 0,001 – Metode Pierce Berdasarkan keadaan klinis, yakni * diare ringan, kebutuhan cairan = 5% x kg BB * diare sedang, kebutuhan cairan = 8% x kg BB * diare ringan, kebutuhan cairan = 10% x kg BB – Metode Daldiyono Berdasarkan skoring keadaan klinis sebagai berikut * Rasa haus/muntah = 1 * BP sistolik 60-90 mmHg = 1 * BP sistolik 120 x/mnt = 1 * Kesadaran apatis = 1 * Kesadaran somnolen, sopor atau koma = 2 * Frekuensi napas >30 x/mnt = 1 * Facies cholerica = 2 * Vox cholerica = 2 * Turgor kulit menurun = 1 * Washer women’s hand = 1 * Ekstremitas dingin = 1 * Sianosis = 2 * Usia 50-60 tahun = 1 * Usia >60 tahun = 2 Kebutuhan cairan = Skor ——– x 10% x kgBB x 1 ltr 15 3 Jalan masuk atau cara pemberian cairan Rute pemberian cairan pada orang dewasa meliputi oral dan intravena. Larutan orali dengan komposisi berkisar 29 g glukosa, 3,5 g NaCl, 2,5 g NaBik dan 1,5 g KCl stiap liternya diberikan per oral pada diare ringan sebagai upaya pertama dan juga setelah rehidrasi inisial untuk mempertahankan hidrasi. 4 Jadual pemberian cairan Jadual rehidrasi inisial yang dihitung berdasarkan BJ plasma atau sistem skor diberikan dalam waktu 2 jam dengan tujuan untuk mencapai rehidrasi optimal secepat mungkin. Jadual pemberian cairan tahap kedua yakni untuk jam ke-3 didasarkan pada kehilangan cairan selama 2 jam fase inisial sebelumnya. Dengan demikian, rehidrasi diharapkan lengkap pada akhir jam ke-3. 2. Tata kerja terarah untuk mengidentifkasi penyebab infeksi. Untuk mengetahui penyebab infeksi biasanya dihubungkan dengan dengan keadaan klinis diare tetapi penyebab pasti dapat diketahui melalui pemeriksaan biakan tinja disertai dengan pemeriksaan urine lengkap dan tinja lengkap. Gangguan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa diperjelas melalui pemeriksaan darah lengkap, analisa gas darah, elektrolit, ureum, kreatinin dan BJ plasma. Bila ada demam tinggi dan dicurigai adanya infeksi sistemik pemeriksaan biakan empedu, Widal, preparat malaria serta serologi Helicobacter jejuni sangat dianjurkan. Pemeriksaan khusus seperti serologi amuba, jamur dan Rotavirus biasanya menyusul setelah melihat hasil pemeriksaan penyaring. Secara klinis diare karena infeksi akut digolongkan sebagai berikut 1 Koleriform, diare dengan tinja terutama terdiri atas cairan saja. 2 Disentriform, diare dengan tinja bercampur lendir kental dan kadang-kadang darah. Pemeriksaan penunjang yang telah disinggung di atas dapat diarahkan sesuai manifestasi klnis diare. 3. Memberikan terapi simtomatik Terapi simtomatik harus benar-benar dipertimbangkan kerugian dan keuntungannya. Antimotilitas usus seperti Loperamid akan memperburuk diare yang diakibatkan oleh bakteri entero-invasif karena memperpanjang waktu kontak bakteri dengan epitel usus yang seyogyanya cepat dieliminasi. 4. Memberikan terapi definitif. Terapi kausal dapat diberikan pada infeksi 1 Kolera-eltor Tetrasiklin atau Kotrimoksasol atau Kloramfenikol. 2 V. parahaemolyticus, 3 E. coli, tidak memerluka terapi spesifik 4 C. perfringens, spesifik 5 A. aureus Kloramfenikol 6 Salmonellosis Ampisilin atau Kotrimoksasol atau golongan Quinolon seperti Siprofloksasin 7 Shigellosis Ampisilin atau Kloramfenikol 8 Helicobacter Eritromisin 9 Amebiasis Metronidazol atau Trinidazol atau Secnidazol 10 Giardiasis Quinacrine atau Chloroquineitiform atau Metronidazol 11 Balantidiasis Tetrasiklin 12 Candidiasis Mycostatin 13 Virus simtomatik dan suportif KONSEP KEPERAWATAN Riwayat Keperawatan dan Pengkajian Fisik Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. 2000 riwayat keperawatan yang perlu dikaji adalah Aktivitas/istirahat Gejala – Kelelelahan, kelemahan atau malaise umum – Insomnia, tidak tidur semalaman karena diare – Gelisah dan ansietas Sirkulasi Tanda – Takikardia reapon terhadap dehidrasi, demam, proses inflamasi dan nyeri – Hipotensi – Kulit/membran mukosa turgor jelek, kering, lidah pecah-pecah Integritas ego Gejala – Ansietas, ketakutan,, emosi kesal, perasaan tak berdaya Tanda – Respon menolak, perhatian menyempit, depresi Eliminasi Gejala – Tekstur feses cair, berlendir, disertai darah, bau anyir/busuk. – Tenesmus, nyeri/kram abdomen Tanda – Bising usus menurun atau meningkat – Oliguria/anuria Makanan dan cairan Gejala – Haus – Anoreksia – Mual/muntah – Penurunan berat badan – Intoleransi diet/sensitif terhadap buah segar, sayur, produk susu, makanan berlemak Tanda – Penurunan lemak sub kutan/massa otot – Kelemahan tonus otot, turgor kulit buruk – Membran mukosa pucat, luka, inflamasi rongga mulut Hygiene Tanda – Ketidakmampuan mempertahankan perawatan diri – Badan berbau Nyeri dan Kenyamanan Gejala – Nyeri/nyeri tekan kuadran kanan bawah, mungkin hilang dengan defekasi Tanda – Nyeri tekan abdomen, distensi. Keamanan Tanda – Peningkatan suhu pada infeksi akut, – Penurunan tingkat kesadaran, gelisah – Lesi kulit sekitar anus Seksualitas Gejala – Kemampuan menurun, libido menurun Interaksi sosial Gejala – Penurunan aktivitas sosial Penyuluhan/pembelajaran Gejala – Riwayat anggota keluarga dengan diare – Proses penularan infeksi fekal-oral – Personal higyene – Rehidrasi Tes Diagnostik Lihat konsep medis. DIAGNOSA KEPERAWATAN Kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta intake terbatas mual. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien dan peningkatan peristaltik usus. Nyeri akut b/d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal. Kecemasan b/d perubahan status kesehatan, perubahan status sosio-ekonomis, perubahan fungsi peran dan pola interaksi. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan kognitif. INTERVENSI KEPERAWATAN Kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta intake terbatas mual Intervensi dan Rasional Berikan cairan parenteral sesuai dengan program rehidrasi – Sebagai upaya rehidrasi untuk mengganti cairan yang keluar bersama feses. Pantau intake dan output. – Memberikan informasi status keseimbangan cairan untuk menetapkan kebutuhan cairan pengganti. Kaji tanda vital, tanda/gejala dehidrasi dan hasil pemeriksaan laboratorium – Menilai status hidrasi, elektrolit dan keseimbangan asam basa. Kolaborasi pelaksanaan terapi definitif. – Pemberian obat-obatan secara kausal penting setelah penyebab diare diketahui. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien dan peningkatan peristaltik usus. Intervensi dan Rasional Pertahankan tirah baring dan pembatasan aktivitas selama fase akut. – Menurunkan kebutuhan metabolik. Pertahankan status NPO puasa selama fase akut/ketetapan medis dan segera mulai pemberian makanan per oral setelah kondisi klien mengizinkan – Pembatasan diet per oral mungkin ditetapkan selama fase akut untuk menurunkan peristaltik sehingga terjadi kekurangan nutrisi. Pemberian makanan sesegera mungkin penting setelah keadaan klinis klien memungkinkan. Kolaborasi pemberian roborantia seperti vitamin B 12 dan asam folat. – Diare menyebabkan gangguan fungsi ileus yang berakibat terjadinya malabsorbsi vitamin B 12; penggantian diperlukan untuk mengatasi depresi sum sum tulang, meningkatkan produksi SDM. – Defisiensi asam folat dapat terjadi bila diare berlanjut akibat malabsorbsi. Kolaborasi pemberian nutrisi parenteral sesuai indikasi. – Mengistirahatkan kerja gastrointestinal dan mengatasi/mencegah kekurangan nutrisi lebih lanjut. Nyeri akut b/d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal. Intervensi dan Rasional Atur posisi yang nyaman bagi klien, misalnya dengan lutut fleksi. – Menurunkan tegangan abdomen. Lakukan aktivitas pengalihan untuk memberikan rasa nyaman seperti masase punggung dan kompres hangat abdomen – Meningkatkan relaksasi, mengalihkan fokus perhatian kliendan meningkatkan kemampuan koping. Bersihkan area anorektal dengan sabun ringan dan airsetelah defekasi dan berikan perawatan kulit – Melindungi kulit dari keasaman feses, mencegah iritasi. Kolaborasi pemberian obat analgetika dan atau antikolinergik sesuai indikasi – Analgetik sebagai agen anti nyeri dan antikolinergik untuk menurunkan spasme traktus GI dapat diberikan sesuai indikasi klinis. Kaji keluhan nyeri skala 1-10, perubahan karakteristik nyeri, petunjuk verbal dan non verbal – Mengevaluasi perkembangan nyeri untuk menetapkan intervensi selanjutnya. Kecemasan b/d perubahan status kesehatan, perubahan status sosio-ekonomis, perubahan fungsi peran dan pola interaksi. Intervensi dan Rasional Dorong klien untuk membicarakan kecemasan dan berikan umpan balik tentang mekanisme koping yang tepat. – Membantu mengidentifikasi penyebab kecemasan dan alternatif pemecahan masalah. Tekankan bahwa kecemasan adalah masalah yang umum terjadi pada orang lain yang mengalami masalah yang sama dengan klien. – Membantu menurunkan stres dengan mengetahui bahwa klien bukan satu-satunya orang yang mengalami masalah yang demikian. Ciptakan lingkungan yang tenang, tunjukkan sikap ramah tamah dan tulus dalam membantu klien. – Mengurangi rangsang eksternal yang dapat memicu peningkatan kecamasan. Kolaborasi pemberian obat sedatif bila diperlukan. – Dapat digunakan sebagai anti ansitas dan meningkatkan relaksasi. Kaji perubahan tingkat kecemasan misalnya dengan indeks HARS – Mengevaluasi perkembangan kecemasan untuk menetapkan intervensi selanjutnya. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan kognitif. Intervensi dan Rasional Kaji kesiapan klien mengikuti pembelajaran, termasuk pengetahuan klien tentang penyakit dan perawatannya. – Efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental serta latar belakang pengetahuan sebelumnya. Jelaskan tentang proses penyakit, penyebab dan akibatnya terhadap gangguan aktivitas sehari-hari. – Pemahaman tentang masalah ini penting untuk meningkatkan partisipasi klien dan keluarga dalam proses perawatan klien. Jelaskan tentang tujuan pemberian obat, dosis, frekuensi dan cara pemberian serta efek samping yang mungkin timbul. – Meningkatkan pemahaman dan partisipasi klien dalam pengobatan. Jelaskan dan tunjukkan cara perawatan perineal setelah defekasi. – Meningkatkan kemandirian dan kontrol klien terhadap kebutuhan perawatan diri. Carpenito 2000, Diagnosa Keperawatan-Aplikasi pada Praktik Klinis, EGC, JakartaPrice & Wilson 1995, Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Buku 1, EGC, JakartaSoeparman & Waspadji 1990, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Ed. Ke-3, BP FKUI, Jakarta. Uploaded byWulaniSetianingrum 75% found this document useful 20 votes29K views13 pagesOriginal TitleASKEP DIARE SDKICopyrightΒ© Β© All Rights ReservedShare this documentDid you find this document useful?Is this content inappropriate?Report this Document75% found this document useful 20 votes29K views13 pagesAskep Diare SdkiOriginal TitleASKEP DIARE SDKIUploaded byWulaniSetianingrum Full descriptionJump to Page You are on page 1of 13Search inside document You're Reading a Free Preview Pages 6 to 12 are not shown in this preview. Buy the Full Version Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime. Diare merupakan kondisi buang air besar yang encer atau cair tiga kali dalam sehari atau lebih. Munculnya diare bisa disebabkan oleh berbagai hal seperti keracunan makanan, infeksi, obat-obatan, alergi, intoleransi makanan, kondisi peradangan, dan sindrom malabsorpsi. Pada tulisan ini, Repro Note akan merangkum mengenai konsep medik dan asuhan keperawatan atau askep diare menggunakan pendekatan sdki slki dan definisi, jenis, penyebab, tanda gejala, dan komplikasi diareMemahami pemeriksaan dan penatalaksanaan medik pada penyakit diareMerumuskan diagnosa keperawatan pada askep diare dengan pendekatan sdkiMerumuskan Luaran dan kriteria hasil pada askep diare dengan pendekatan SikiMelaksanakan intervensi keperawatan pada askep diare menggunakan pendekatan sdkiimage by Asuhan Keperawatan Askep DiareDefinisiDiare didefinisikan sebagai awitan tiba-tiba 3 kali atau lebih buang air besar per hari. Diare akut pada masa kanak-kanak biasanya disebabkan oleh infeksi pada usus halus atau usus besar. Namun, banyak gangguan lain yang juga dapat menyebabkan diare seperti sindrom malabsorpsi dan berbagai enteropati. Diare dengan onset akut biasanya sembuh sendiri, namun dapat juga berlangsung durasinya, episode diare secara klasik dibedakan menjadi akut kurang dar 14 Hari dan kronis atau persisten lebih dari 14 Hari.Penyebab DiareDiare AkutPenyebab diare akut yang paling umum adalah infeksi virus, bakteri, dan parasit. Bakteri juga dapat menyebabkan keracunan makanan akut. Penyebab lainnya adalah penggunaan beberapa jenis obat-obatan yang dapat menyebabkan wisatawan atau Traveler’s DiarrheaDiare wisatawan biasanya disebabkan oleh strain ETEC enterotoksigenik E. coli yang menghasilkan racun penyebab diare, yang didapatkan saat mengunjungi wilayah atau negara yang dihasilkan oleh ETEC menyebabkan diare tiba-tiba, kram perut, mual, dan terkadang muntah. Gejala ini biasanya terjadi 3-7 hari setelah tiba di luar negeri dan umumnya mereda dalam waktu 3 hari. Kadang-kadang, bakteri atau parasit lain dapat menyebabkan diare pada wisatawan seperti Shigella, Giardia, dan virusGastroenteritis virus atau infeksi virus pada lambung dan dudenum adalah penyebab paling umum dari diare akut di seluruh gastroenteritis virus biasanya hanya berlangsung 48-72 jam dan meliputi Mual Muntah, Kram perut, dan Diare. Tidak seperti enterokolitis,pada pasien dengan gastroenteritis virus biasanya tidak terdapat darah atau nanah dalam tinja mereka dan hanya mengalami sedikit virus dapat terjadi dalam bentuk sporadis pada satu individu atau dalam bentuk epidemi pada kelompok individu. Diare sporadis mungkin disebabkan oleh beberapa strain virus yang berbeda sedangkan Penyebab paling umum dari diare epidemik adalah infeksi virus yang dikenal sebagai calicivirus dengan genus bakterialBakteri biasanya menyerang usus kecil dan usus besar dan menyebabkan enterokolitis atau radang usus kecil dan usus besar. Enterokolitis bakteri ditandai dengan tanda-tanda peradangan seperti darah atau nanah dalam tinja, demam, nyeri perut, dan jejuni adalah bakteri paling umum yang menyebabkan enterokolitis akut. Bakteri lain yang menyebabkan enterokolitis antara lain Shigella, Salmonella, dan EPEC. Bakteri ini biasanya masuk karena minum air yang terkontaminasi atau makan makanan yang terkontaminasi seperti sayuran, unggas, dan produk difficile juga merupakan infeksi nosokomial yang paling sering menyebabkan diare. Sayangnya, infeksi juga meningkat di antara orang-orang yang tidak pernah minum antibiotik atau dirawat di rumah coli O157H7 adalah strain yang menghasilkan toksin yang menyebabkan enterokolitis hemoragik. Wabah enterokolitis hemoragik yang terkenal di AS yang ditelusuri dari daging giling yang terkontaminasi dalam hamburger sehingga sering disebut kolitis kecil pasien yang terinfeksi E. coli, terutama anak-anak dapat mengalami hemolytic uremic syndrome HUS, suatu sindrom yang dapat menyebabkan gagal ginjal. Beberapa bukti menunjukkan bahwa penggunaan agen anti-diare yang berkepanjangan atau penggunaan antibiotik dapat meningkatkan kemungkinan perkembangan MakananKeracunan makanan biasanya disebabkan oleh toksin yang dihasilkan oleh bakteri. Toksin menyebabkan sakit perut, kram dan muntah, dan menyebabkan usus mengeluarkan air dalam jumlah besar yang menyebabkan beberapa bakteri, toksin diproduksi di dalam makanan sebelum dimakan, sedangkan pada bakteri lain, toksin diproduksi di usus setelah makanan aureus adalah contoh bakteri yang menghasilkan racun dalam makanan. Biasanya, makanan yang terkontaminasi Staphylococcus seperti salad, daging, atau sandwich dengan mayones dibiarkan tidak didinginkan pada suhu kamar perfringens adalah contoh bakteri yang berkembang biak dalam makanan seperti makanan kaleng, dan menghasilkan toksin di usus setelah makanan yang terkontaminasi Giardia lamblia terjadi pada individu yang mendaki gunung atau bepergian ke luar negeri dan ditularkan melalui air minum yang amuba atau amoebiasis biasanya terjadi selama perjalanan ke luar negeri ke negara-negara berkembang dan dikaitkan dengan tanda-tanda peradangan, darah atau nanah dalam tinja dan adalah parasit penyebab diare yang disebarkan oleh air yang terkontaminasi karena dapat bertahan dari klorinasi. Cyclospora adalah parasit penyebab diare yang dikaitkan dengan raspberry yang terkontaminasi dari obatanBeberapa jenis obat seperti antasida dan suplemen magnesium dapat menyebabkan diare. Diare akibat obat obatan biasanya muncul segera setelah pengobatan dengan obat tertentu KronisSindrom iritasi ususSindrom iritasi usus atau Irritable bowel syndrome IBS adalah penyebab fungsional diare atau sembelit. Secara fisik, peradangan biasanya tidak ada di usus yang terkena. Hal ini mungkin disebabkan oleh beberapa masalah mendasar yang berbeda, tetapi diyakini bahwa penyebab paling umum adalah sensitifitas dan aliran cepat isi usus melalui usus InfeksiBeberapa penyakit infeksi dapat menyebabkan diare kronis, misalnya Giardia lamblia. Pasien dengan AIDS sering mengalami infeksi kronis pada usus mereka yang menyebabkan bakteri usus yang berlebihan. Bakteri yang merupakan flora normal pada kolon dapat menyebar dari usus besar dan masuk ke usus kecil. Ketika ini terjadi, dapat menjadi pemicu terjadinya infeksiSetelah infeksi virus, bakteri, atau parasit akut, beberapa individu dapat mengalami diare kronis. Hal ini diperkirakan terjadi karena potensi pertumbuhan mikroorganisme usus yang berlebihan. Mereka juga ditemukan memiliki kelainan, baik mikroskopis atau biokimia yang menunjukkan bahwa mungkin ada radang ususPenyakit radang usus atau inflammatory bowel disease IBD seperti Penyakit Crohn dan kolitis ulseratif, yaitu penyakit yang menyebabkan radang usus kecil atau usus besar, umumnya menyebabkan diare usus besarKanker usus besar dapat menyebabkan diare atau sembelit. Jika kanker menghalangi jalannya feses, biasanya akan menyebabkan konstipasi. Diare atau sembelit yang disebabkan oleh kanker biasanya bersifat progresif, yaitu menjadi semakin karbohidratMalabsorpsi karbohidrat adalah ketidakmampuan untuk mencerna dan menyerap gula. Malabsorpsi gula yang paling sering terjadi adalah laktosa atau intoleransi susu, di mana produk susu yang mengandung gula susu atau laktosa menyebabkan tidak dipecah di usus karena tidak adanya enzim usus yaitu laktase yang biasanya memecah laktosa menjadi komponen gula galaktosa dan glukosa. Jika tidak dipecah, laktosa tidak dapat diserap ke dalam tubuh. Laktosa yang tidak tercerna menarik air melalui osmosis ke dalam usus itu, laktosa juga dicerna oleh bakteri usus besar menjadi gas hidrogen dan metana serta bahan kimia yang mendorong retensi atau sekresi cairan di usus besar, dan pada akhirnya menyebabkan lemakMalabsorbsi lemak bisa disebabkan karena kurangnya sekresi pankreas yang dibutuhkan untuk metabolisme lemak seperti pada pankreatitis atau kanker pankreas. Bisa juga di sebabkan oleh penyakit pada lapisan usus kecil yang mencegah penyerapan lemaks eperti penyakit yang tidak tercerna masuk ke usus besar tempat bakteri mengubahnya menjadi zat yang menyebabkan peningkatan sekresi air oleh usus halus dan usus besar dan pada akhirnya menyebabkan kondisi normal usus halus dan kolon menyerap 99% cairan yang dihasilkan dari asupan oral dan sekresi saluran gastrointestinal, jumlah cairan total sekitar 9 dari 10 L setiap hari. Jadi, pengurangan kecil saja yaitu sekitar 1% penyerapan air usus atau peningkatan sekresi dapat meningkatkan kadar air yang signifikan untuk menyebabkan mekanisme dasar yang paling umum adalah peningkatan beban osmotik, peningkatan sekresi/penurunan penyerapan, serta penurunan waktu kontak/luas permukaan. Pada banyak gangguan, lebih dari satu mekanisme aktif. Misalnya, diare pada penyakit radang usus disebabkan oleh peradangan mukosa, eksudasi ke dalam lumen, dan dari berbagai sekretagog dan toksin bakteri yang mempengaruhi fungsi osmotikDiare terjadi ketika zat terlarut yang tidak dapat diserap dan larut dalam air tetap berada di usus dan menahan air. Zat terlarut tersebut antara lain polietilen glikol, garam magnesium hidroksida, sulfat, dan natrium osmotik terjadi pada intoleransi gula seperti intoleransi laktosa yang disebabkan oleh defisiensi laktase. Hexitols seperti sorbitol, manitol, xylitol atau sirup jagung fruktosa tinggi, yang digunakan sebagai pengganti gula dalam permen, dan jus buah, dapat menyebabkan diare osmotik karena hexitols diserap dengan yang digunakan sebagai pencahar, menyebabkan diare dengan mekanisme serupa. Mengonsumsi makanan tertentu secara berlebihan dapat menyebabkan diare sekresi dan penurunan penyerapanDiare terjadi ketika usus mengeluarkan lebih banyak elektrolit dan air daripada yang bisa diserap. Penyebab peningkatan sekresi antara lain infeksi, lemak yang tidak diserap, obat-obatan tertentu, dan berbagai secret intrinsik dan adalah penyebab paling umum dari diare sekretori. Infeksi yang dikombinasikan dengan keracunan makanan adalah penyebab paling umum dari diare akut dengan durasi <4 hari. Kebanyakan enterotoksin memblokir pertukaran natrium-kalium yang merupakan kekuatan pendorong penting untuk penyerapan cairan di usus kecil dan usus makanan dan asam empedu yang tidak diserap seperti pada sindrom malabsorpsi dan setelah reseksi ileum dapat merangsang sekresi kolon dan menyebabkan dapat merangsang sekresi usus secara langsung, misalnya quinidine, kina, colchicine, katartik antrakuinon, minyak jarak, dan prostaglandin. Atau bisa juga secara tidak langsung dengan mengganggu penyerapan lemak seperti tumor endokrin menghasilkan secretagogues, seperti vipomas peptida usus vasoaktif, gastrinoma gastrin, mastositosis histamin, karsinoma meduler tiroid kalsitonin dan prostaglandin, dan tumor karsinoid histamin, serotonin, dan polipeptida. Beberapa mediator ini seperti prostaglandin, serotonin, dan senyawa terkait juga bisa mempercepat transit usus, transit kolon, atau penyerapan garam empedu dapat menyebabkan diare dengan merangsang sekresi air dan elektrolit. Ciri khasnya adalah kotoran memiliki warna hijau atau waktu kontak dengan area permukaanTransit usus yang cepat dan berkurangnya luas permukaan mengganggu penyerapan cairan dan menyebabkan diare. Penyebab umum antara lain reseksi atau bypass usus kecil atau usus besar, reseksi lambung, dan penyakit radang lain seperti kolitis mikroskopis kolitis kolagen atau limfositik dan penyakit seliaka. Hipertiroidisme juga dapat menyebabkan diare karena percepatan transit pada saluran otot polos usus oleh obat-obatan seperti antasida yang mengandung magnesium, pencahar, inhibitor kolinesterase, inhibitor reuptake serotonin selektif atau agen humoral seperti prostaglandin dan serotonin juga dapat mempercepat dan GejalaTanda dan gejala utama diare adalah buang air besar yang encer dan cair tiga kali atau lebih dalam dan gejala lain yang bisa muncul yaituKramKehilangan kontrol buang air besarMual muntahNyeri perutTinja berdarahDemam dan menggigilPusingPemeriksaan PenunjangDiare akut biasanya tidak memerlukan pemeriksaan penunjang, kecuali pada pasien dengan tanda-tanda dehidrasi, tinja berdarah, demam, sakit parah, hipotensi, atau gejala toksik. Pemeriksaan yang biasa dilakukan meliputi darah lengkap dan pengukuran elektrolit, nitrogen urea darah, dan kreatinin. Sampel feses harus dikumpulkan untuk pemeriksaan mikroskopis, kultur, dan jika antibiotik telah diminum baru-baru ini, perlu dilakukan uji toksin Clostridium kronis memerlukan evaluasi pada pasien dengan gangguan sistem imun atau mereka yang tampak sakit parah. Evaluasi diagnostik harus diarahkan oleh riwayat dan pemeriksaan awal harus mencakup pemeriksaan feses untuk darah samar, lemak, elektrolit, dan antigen Giardia, hitung darah lengkap dengan diferensial, serologi celiac transglutaminase jaringan IgA. Pemeriksaan mikroskopis untuk telur dan parasit harus dilakukan untuk pasien dengan riwayat perjalanan baru-baru ini dari daerah berisiko feses untuk Clostridium difficile harus dilakukan pada pasien dengan paparan antibiotik baru-baru ini atau dugaan infeksi C. difficile. Sigmoidoskopi atau kolonoskopi dengan biopsi harus dilakukan untuk mencari penyebab diare yang paling umum adalah dehidrasi, yang terjadi ketika kehilangan cairan dan mineral elektrolit secara berlebihan dari tubuh akibat diare, dengan atau tanpa sering terjadi pada pasien dewasa dengan diare akut yang memiliki feses encer dalam jumlah besar, terutama ketika asupan cairan berkurang berhubungan dengan mual dan juga sering terjadi pada bayi dan anak kecil yang mengalami gastroenteritis virus atau infeksi bakteri. Pasien dengan dehidrasi ringan mungkin hanya mengalami rasa haus dan mulut sedang hingga berat dapat menyebabkan hipotensi ortostatik, pingsan atau pusing saat berdiri karena berkurangnya volume darah, yang menyebabkan penurunan tekanan darah. Output urin berkurang, kelemahan, syok, gagal ginjal, kebingungan, asidosis, dan hilang dengan cairan ketika diare berkepanjangan atau parah, dan defisiensi mineral atau elektrolit dapat terjadi. Defisiensi yang paling umum terjadi dengan natrium dan kalium, klorida dan MedikDiare memerlukan penggantian cairan dan elektrolit baik oral atau parenteral untuk memperbaiki dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, dan parenteral yang mengandung natrium klorida, kalium klorida, dan glukosa umumnya diperlukan. Larutan glukosa-elektrolit oral dapat diberikan jika diare tidak parah dan mual dan muntah minimal. Cairan oral dan parenteral kadang-kadang diberikan secara bersamaan ketika air dan elektrolit harus diganti dalam jumlah adalah gejala, bila memungkinkan gangguan yang mendasarinya harus diobati, tetapi pengobatan simtomatik seringkali diperlukan. Diare dapat dikurangi dengan loperamide, difenoksilat, kodein fosfat oral, atau cairan oral paregoric camphorated opium tingtur. Kaolin, pektin, dan attapulgit teraktivasi dapat menyerap antidiare dapat memperburuk kolitis C. difficile atau meningkatkan kemungkinan sindrom hemolitik-uremik pada infeksi Escherichia coli penghasil toksin Shiga, obat ini tidak boleh digunakan pada diare berdarah dengan penyebab yang tidak diketahui. Penggunaannya juga harus dibatasi pada pasien dengan diare cair dan tidak ada tanda-tanda toksisitas Keperawatan Askep Diare Pendekatan SDKI, SLKI, SIKIPengkajianPada askep diare, fokus pengkajian meliputi Keluhan ketidaknyamanan perut, nyeri, kram, frekuensi, urgensi, feses encer atau cair, dan sensasi usus pola defekasi, penilaian pola buang air besar akan membantu pengobatan feses untuk membedakan organisme etiologi potensial terhadap susu dan produk susu lainnya. Pasien dengan intoleransi laktosa memiliki enzim laktase yang tidak mencukupi untuk mencerna makanan. Makanan tertentu dapat memicu saraf usus dan menyebabkan peningkatan peristaltik. Makanan pedas, berlemak, atau tinggi karbohidrat, kafein, makanan bebas gula dengan sorbitol, atau makanan yang terkontaminasi dapat menyebabkan penyiapan makanan. Diare juga dapat disebabkan oleh makanan yang tidak dimasak dengan benar, makanan yang terkontaminasi bakteri selama persiapan, dan makanan yang tidak dijaga pada suhu yang yang sedang atau telah dikonsumsi pasien. Obat-obatan tertentu seperti pencahar dan antibiotik biasanya menyebabkan diare. suplemen magnesium dan kalsium juga dapat menyebabkan pola makan. Perubahan jadwal makan dapat menyebabkan perubahan fungsi usus dan dapat menyebabkan saat ini. Individu tertentu merespons stres dengan hiperaktivitas saluran hidrasi, seperti Masukan dan keluaranKelembaban selaput lendir. Dehidrasi menyebabkan selaput lendir kulit. Penurunan turgor kulit dan pengencangan kulit terjadi pada Penyakit gastrointestinal seperti gastroenteritis dan penyakit Crohn dapat menyebabkan malabsorpsi dan menyebabkan diare Perjalanan ke luar negeri, konsumsi produk susu yang tidak dipasteurisasi, atau minum air yang tidak kondisi kulit perianal. Kotoran diare mungkin sangat korosif sebagai akibat dari peningkatan kandungan dampak emosional dari penyakit dan rawat inap. Hilangnya kontrol eliminasi usus yang terjadi dengan diare dapat menyebabkan perasaan malu dan penurunan harga Luaran, dan Intervensi Keperawatan1. Diare b/d Inflamasi Gatrointestinal, proses infeksi, atau malabsorpsi Eliminasi Fekal Membaik pengeluaran feses meningkatUrgensi menurunNyeri abdomen menurunKram abdomen menurunKonsistensi feses membaikFrekuensi defekasi membaikPeristaltik usus membaikIntervensi Manajemen Diare penyebab diareIdentifikasi riwayat pemberian makananIdentifikasi gejala invaginasiMonitor warna, volume, frekwensi, dan konsistensi tinjaMonitor tanda dan gejala hipovolemiaMonitor iritasi dan ulserasi kulit di daerah perianalMonitor jumlah pengeluaran diareMonitor keamanan penyiapan makananBerikan asupan cairan oral, misalnya larutan gula garam, oralit, atau pedialitPasang jalur kanulasi intravena infusBerikan cairan intravena jika perluAmbil sampel darah untuk pemeriksaan darah lengkap dan elektrolitAmbil sampel feses untuk kultur jika perluAnjurkan makanan porsi kecil dan sering secara bertahapAnjurkan menghindari makanan pembentuk gas, pedas, dan mengandung laktosaAnjurkan melanjutkan pemberian ASIKolaborasi pemberian obat antimotilitasKolaborasi pemberian obat antispasmodikKolaborasi pemberian obat pengeras feses seperti atapulgit2. Hipovolemia b/d Kehilangan cairan aktif Status Cairan Membaik nadi meningkatTurgor kulit meningkatOutput Urin meningkatPerasaan lemah menurunKeluhan Haus menurunKonsentrasi urin menurunIntake cairan membaikFrekwensi nadi, tekanan darah, dan tekanan nadi membaikIntervensi Manajemen Hipovolemia tanda-tanda hipovolemiaMonitor intake dan output cairanHitung kebutuhan cairanBerikan posisi modified trendelenburgBerikan asupan cairan oralAnjurkan menghindari perubahan posisi mendadakKolaborasi pemberian cairan IV isotonikKolaborasi pemberian cairan IV HipotonikKolaborasi pemberian cairan IV koloidKolaborasi pemberian produk darah3. Risiko ketidakseimbangan Elektrolit b/d Diare Keseimbangan Elektrolit Meningkat L03021Kadar serum elektrolit dalam batas normalSerum natrium meningkatSerum kalium meningkatSerum klorida meningkatIntervensi Pemantauan Elektrolit kemungkinan penyebab ketidakseimbangan elektrolitMonitor kadar elektrolit serumMonitor mual muntah dan diareMonitor kehilangan cairan jika perluMonitor tanda dan gejala hipokalemia seperti kelemahan otot, interval QT memanjang, gelombang T datar atau terbalik, depresi segmen ST, kelelahan, parestesia, penurunan refleks, dan tanda dan gejala hiponatremia seperti diorientasi, otot berkedut, sakit kepala, membran mukosa kering, hipotensi postural, kejang, letargi, dan penurunan tanda dan gejala hipokalsemia seperti peka rangsang, tanda chvostekspasme otot wajah, tanda trousseau spasme karpal, kram otot, dan interval QT interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi pasienDokumentasikan hasil pemantauan4. Risiko Syok b/d Kekurangan Volume Cairan Tingkat Syok Meningkat nadi meningkatOutput urin meningkatAkral dingin, pucat, dan haus menurunTekanan darah, tekanan nadi, pengisisan kapiler, dan frekwensi nadi membaikIntervensi Pencegahan Syok status kardiopulmonal seperti frekwensi dan kekuatan nadi, frekwensi nafas, Tekanan darah, dan MAPMonitor Status Oksigenasi seperti oksimetri dan AGDMonitor Status cairan seperti masukan dan haluaran, turgor kulit, dan CRTMonitor tingkat kesadaran dan respon pupilPasang jalur IV jika perluPasang kateter urin untuk menilai produksi urin jika perluJelaskan penyebab dan faktor resiko syokJelaskan tanda dan gejala awal syokAnjurkan melapor jika menemukan/merasakan tanda dan gejala awal syokAnjurkan memperbanyak asupan cairan oralKolaborasi pemberian cairan IV jika perluKolaborasi pemberian tranfusi darah jika perluReferensi 2006. Diarrhea Overview. Cologne, Germany Institute for Quality and Efficiency in Health Care IQWiG. Guandalini. 2020. Diarrhea. Med Scape. Clinic. 2020. Diarrhea. W Marks. 2020. Diarrhea. Medicine Net. Gotfried. 2020. Diarrhea. MSD Manual Professional Version. 2017. Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. JakartaPPNI, 2018. Standart Intervensi Keperawatan Indonesia edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. JakartaPPNI, 2019. Standart I Luaran Keperawatan Indonesia edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta

contoh askep diare pada orang dewasa